Banh Mi Vietnam, Turunan Baguette Prancis dengan Beda Ciri Khas
- Eric

- Sep 26
- 5 min read

Banh mi adalah roti isi khas Vietnam yang kini populer di banyak negara, termasuk Indonesia. Teksturnya khas: kulit tipis dan renyah, bagian dalam lembut dan ringan, serta selalu dipadukan dengan aneka isian segar.
Tapi, yang bikin banh mi menarik bukan hanya soal rasa. Di balik kesederhanaannya, roti ini menyimpan cerita panjang tentang bagaimana baguette Prancis bertransformasi di tanah Vietnam. Bagaimana bisa satu roti sederhana berubah jadi ikon kuliner dunia? Jawabannya ada di balik sejarah dan ciri khas banh mi yang akan kita bahas lebih lanjut.
Apa Itu Banh Mi
Banh mi adalah roti isi khas Vietnam, atau juga biasa disebut sebagai baguette Vietnam. Roti ini menggunakan baguette versi lokal dengan kulit tipis dan renyah, serta bagian dalam yang lembut dan berongga. Umumnya banh mi diisi dengan daging panggang, pate, acar wortel dan lobak, daun ketumbar, cabai, serta olesan mayonnaise.
Dalam bahasa Vietnam, banh mi berarti “roti,” tetapi dalam penggunaan sehari-hari istilah ini lebih sering merujuk pada sandwich khas Vietnam yang kini dikenal sebagai salah satu ikon kuliner Asia.
Asal Usul Banh Mi: Warisan Kolonial yang Bertransformasi
Kisah banh mi berawal di masa kolonial Prancis pada abad ke-19. Saat itu, baguette dibawa masuk ke Vietnam sebagai bagian dari budaya makan orang Eropa. Roti panjang dengan kulit keras dan isi yang kenyal ini awalnya hanya disantap kalangan kolonial bersama butter, keju, atau pate, menu khas ala Prancis yang dianggap mewah bagi masyarakat lokal.
Seiring waktu, baguette mulai dikenali masyarakat Vietnam. Tapi karena iklim tropis dan keterbatasan gandum, roti ini sulit diproduksi dengan cara yang persis sama seperti di Eropa. Dari sinilah muncul adaptasi: sebagian resep diganti dengan tambahan tepung beras agar teksturnya lebih ringan, kulitnya lebih tipis dan renyah, sementara bagian dalamnya tetap lembut dan berongga. Hasilnya, roti jadi lebih cocok dengan selera dan kebiasaan makan orang Vietnam.
Perubahan tidak berhenti di situ. Setelah Prancis meninggalkan Vietnam pada tahun 1954, masyarakat setempat tentunya “mengambil alih” roti ini. Mereka mulai mengisinya dengan daging panggang, acar wortel dan lobak, daun ketumbar, cabai segar, hingga olesan mayonnaise atau pate. Perpaduan inilah yang akhirnya melahirkan banh mi seperti yang kita kenal sekarang, sebuah sandwich yang ringan, penuh rasa, dan sangat khas Asia Tenggara.
Banh mi bukan lagi sekadar tiruan baguette, melainkan simbol kreativitas orang Vietnam dalam mengubah warisan kolonial menjadi identitas kuliner yang benar-benar baru.
Perbedaan Baguette Prancis dan Banh Mi Vietnam
Kalau ditanya apa perbedaan utama antara baguette Prancis dan banh mì Vietnam, jawabannya ada di tekstur dan rasa.
Baguette Prancis punya kulit luar (crust) yang tebal dan keras dengan isi (crumb) yang kenyal dan lebih padat.
Banh Mi Vietnam justru sebaliknya: kulitnya tipis dan rapuh (crackly), sementara dalamnya ringan, lembut, dan berongga.
Perbedaan signifikan lainnya ada pada bahan dan adaptasi resep. Baguette Prancis murni menggunakan tepung gandum, sedangkan banh mi kadang ditambah tepung beras agar teksturnya lebih ringan, sesuai iklim tropis dan selera lokal di Vietnam. Inilah yang membuat banh mi terasa lebih “airy” dan mudah digigit, cocok untuk isian beragam khas street food Vietnam.
Aspek | Baguette Prancis | Banh Mi Vietnam |
Bahan | Tepung gandum, air, ragi, garam | Tepung gandum + kadang tepung beras, air, ragi, garam, sedikit gula/lemak |
Crust (kulit) | Tebal, keras, chewy | Tipis, rapuh, lebih renyah |
Crumb (isi roti) | Padat, kenyal, agak berat | Lembut, ringan, berongga, airy |
Ukuran | Lebih panjang dan gemuk | Lebih kecil, sering jadi porsi individual |
Rasa | Dominan rasa gandum, agak gurih, rustic | Lebih ringan, sedikit manis, netral untuk isi yang beragam |
Kegunaan | Disajikan dengan keju, sup, atau hidangan Prancis klasik | Dasar sandwich bánh mì dengan aneka isian daging, sayur, saus |
Sebenarnya, model roti seperti ini termasuk dalam kategori rustic bread, roti tradisional dengan kulit renyah dan isi yang bertekstur. Misalnya:
Torn Bread: roti dengan bentuk sederhana, biasanya disobek langsung, teksturnya rustic mirip baguette tapi lebih kasual.
Boule: roti bundar khas Prancis, crust renyah dengan isi kenyal, mirip konsep baguette tapi berbeda bentuk.
Banyak orang sering bingung membedakan jenis-jenis roti rustic ini, padahal fungsinya sering kali tumpang tindih.
Baca Juga: Mengenal Roti Sourdough
Kegunaan Banh Mi dalam Berbagai Hidangan
Banh mi paling dikenal sebagai roti isi khas Vietnam. Isian klasiknya berupa daging panggang (seperti babi, ayam, atau sapi), acar wortel dan lobak, ketumbar segar, cabai, serta olesan pate atau mayonnaise. Kombinasi ini menjadikannya salah satu street food paling populer, baik di Vietnam maupun di luar negeri.
Namun, kegunaan banh mi tidak berhenti di situ. Di berbagai daerah Vietnam, banh mi hadir dalam bentuk hidangan lain:
Banh Mi Chao (Hanoi): roti banh mi disantap bersama telur, sosis, atau pate panas yang disajikan di atas piring besi.
Bo Kho Banh Mi: semur sapi dengan kuah rempah kental, roti banh mi digunakan untuk mencelup kuahnya.
Banh Mi Xiu Mai (Da Lat): banh mi disajikan dengan kuah bakso tomat yang hangat.
Banh Mi Cha Ca (Nha Trang): versi dengan isian fish cake goreng khas daerah pesisir.
Menariknya, roti ini juga cukup fleksibel. Kalau tidak ada banh mi, baguette bisa jadi pengganti untuk menu seperti bo kho. Begitu pula sebaliknya, banh mi bisa dipakai untuk menemani sup atau hidangan Eropa sederhana. Meski begitu, untuk yang mengejar autentisitas rasa, terutama bagi pemilik kafe atau restoran, menggunakan roti sesuai asal kulinernya tentu memberi nilai tambah.
Banh Mi di Indonesia: Kuliner yang Semakin Populer
Di Indonesia, banh mi mulai banyak dijumpai di kafe maupun restoran yang mengusung konsep Asian food atau street food internasional. Roti isi khas Vietnam ini hadir sebagai pilihan menu yang segar dan berbeda, cocok untuk konsumen urban yang senang mencoba kuliner baru.
Tren cafe hopping dan pencarian makanan unik juga ikut mendorong popularitas banh mi. Teksturnya yang ringan dengan isian beragam membuatnya mudah diterima, baik sebagai makanan cepat saji maupun teman nongkrong santai. Perlahan, banh mi tidak lagi hanya dikenal di Vietnam, tetapi juga menjadi bagian dari tren kuliner modern di kota-kota besar Indonesia.
Banh mi adalah contoh nyata bagaimana satu makanan bisa jadi jembatan antara dua budaya. Dari baguette Prancis yang dibawa ke Vietnam, lahirlah roti dengan karakter baru yang ringan dan renyah, lalu berkembang menjadi sandwich ikonik dengan cita rasa khas Asia Tenggara. Ia bukan sekadar hidangan, tapi simbol kreativitas dalam mengolah warisan kuliner menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda.
Bagi Anda yang bergerak di dunia kuliner, terutama pemilik kafe, restoran, atau bisnis F&B, memahami perbedaan baguette dan banh mi bisa jadi inspirasi untuk menghadirkan menu yang lebih variatif. Karena pada dasarnya, teknik pembuatan keduanya mirip, sehingga roti baguette yang biasa digunakan pun bisa diadaptasi menjadi basis untuk banh mi jika dibutuhkan.
Kalau Anda mencari supplier baguette berkualitas untuk kebutuhan bisnis, atau bahkan ingin mencoba mengembangkan kreasi banh mi di menu Anda, Authentique French Bread siap membantu menghadirkan roti dengan standar autentik yang bisa jadi fondasi berbagai hidangan. Dua dunia, satu roti, tinggal bagaimana Anda mengolahnya untuk pelanggan Anda.



Comments